Ditengah derunya arus informasi,kaderisasi dan literasi media sangat diperlukan
- Sep 28, 2024
- Petrus Titus Reawaruw,Spd
- Lingkungan
Surabaya-Seiring dengan semakin meluasnya akses informasi melalui media penyiaran terestrial dan internet, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Surabaya bekerja sama dengan Kominfo Jawa Timur mengadakan Seminar Literasi Digital sebagai bentuk penguatan pemahaman mahasiswa terhadap tantangan yang dihadapi di era disrupsi 5.0.
Seminar ini bertujuan memberikan wawasan menyeluruh kepada para mahasiswa mengenai literasi digital dan lembaga penyiaran.
Acara berlangsung di Gedung Serbaguna SC GMKI Surabaya, Jalan Tegalsari No. 62, Surabaya, Sabtu (28/9/2024), malam ini.
"Dengan maraknya disinformasi dan hoaks yang muncul sebagai efek domino disrupsi teknologi, acara ini mengajak mahasiswa Surabaya untuk terlibat aktif dalam membangun kesadaran dan pemahaman yang lebih baik terhadap penyiaran dan informasi digital," ungkap Blaise C. Pattiselanno, selaku Ketua Cabang GMKI Surabaya.
"Generasi muda, khususnya mahasiswa, sebagai agen perubahan dan penyongsong bonus demografi Indonesia Emas 2045, diharapkan memiliki keterampilan literasi digital yang kuat guna menghadapi tantangan dalam berbagai aspek kehidupan, baik berbangsa maupun bernegara," paparnya.
Acara diadakan dengan dua sesi utama yang fokus pada literasi digital serta peran media konvensional dan digital dalam menjaga demokrasi di era disrupsi.
Pasa sesi pertama, seminar diberi tajuk "Menuju Indonesia Emas 2045: Penguatan Literasi Digital dan Lembaga Penyiaran Terestrial di Era Disrupsi 5.0", dengan beberapa narasumber yang berkompeten.
Diantaranya Putut Darmawan, Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (Kabid IKP) ; Imanuel Yosua T., Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Jawa Timur ; dan Eben Haezer dari Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) ; serta Hizkia Trianto, Koordinator Wilayah V GMKI Jawa Timur.
Pada sesi ini, para narasumber membahas pentingnya sinergi antara lembaga penyiaran terestrial dan platform media digital.
Imanuel Yosua T., Ketua KPI Jawa Timur, mengangkat isu penguatan lembaga penyiaran yang masih digunakan oleh masyarakat luas serta upaya kolaboratif dan sinergitas antara media tradisional dan digital untuk melawan hoaks.
Sementara itu, Eben Haezer dari AJI menyoroti pentingnya etika jurnalistik dalam menghadapi arus informasi yang kian tak terkendali di era digital.
Senior jurnalis ini juga menekankan bagaimana mahasiswa dapat berperan aktif dalam memerangi disinformasi serta mendukung terciptanya ruang publik yang lebih sehat dan berintegritas.
Putut Darmawan dari Kominfo Jawa Timur lebih menekankan terkait tantangan regulasi dan kebijakan di era disrupsi digital, sementara Hizkia Trianto akan menekankan pentingnya keterlibatan aktif mahasiswa dalam menjaga integritas informasi di tengah gempuran disinformasi yang merusak kepercayaan masyarakat.
Sementara pada sesi 2, acara dikemas dengan diskusi santai yang mengambil tema "Ngopi Arek Surabaya: Pergerakan Mahasiswa dan Keterlibatan Media dari Masa ke Masa"
Narasumber juga diambil dari akademisi dan tokoh pergerakan serta politik. Diantaranya Prof. Hotman S., Guru Besar FISIP Universitas Airlangga ; Alfa Tomasoa, Aktivis Roemah Bhinneka ; Yordan Batara Goa, Anggota DPRD Jawa Timur ; dan Daniel Rohi, Anggota DPRD Jatim periode 2019-2024.
Diskusi dipandu dengan santai oleh Blaise C. Pattiselanno, Ketua Cabang GMKI Surabaya.
Sesi kedua ini berfokus pada sejarah dan peran media dalam mendukung gerakan mahasiswa dari masa ke masa, baik media konvensional maupun digital.
Daniel Rohi berbagi pengalamannya sebagai legislator yang turut terlibat dalam pergerakan mahasiswa di masa lalu.
Prof. Hotman S. akan memberikan pandangan akademis mengenai transformasi peran media dalam pergerakan mahasiswa serta dampaknya terhadap tata kelola pemerintahan di tingkat daerah dan nasional.
Selain itu, Alfa Tomasoa akan mengangkat isu keadilan sosial dan bagaimana mahasiswa bisa menggunakan media untuk memperjuangkan hak-hak tersebut.
Mengakhiri sesi acara, dilakukan peluncuran website GMKI Surabaya dan platform media Neodedicatio.
"Website GMKI Surabaya diharapkan menjadi sarana komunikasi dan pemberdayaan bagi mahasiswa melalui pemahaman literasi digital dan penyiaran yang mendalam," harapnya.
"Kolaborasi antara media digital dan konvensional dipandang penting untuk memastikan informasi yang didapatkan masyarakat khususnya para mahasiswa, bebas dari hoaks serta mumpuni menghadapi tantangan disrupsi 5.0, dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih baik," tukasnya
Azarya Dami, sekfung Media GMKI, mengungkapkan bahwa acara ini diadakan agar mahasiswa sebagai agen perubahan dapat melek akan informasi serta tidak terjerumus dalam informasi hoax.
" Saya berharap dengan acara ini mahasiswa dapat bergerak melakukan perubahan dalam menerjemahkan informasi sehingga kedepan mereka dapat memberikan semangat yang baru dalam menelaah informasi secara gamblang dan benar," lugas laki-laki yang selalu murah senyum itu.